Selayang Pandang ke Padang Panjang
Oleh: Denni Meilizon ADA HAL yang selalu melekat dalam ingatan manakala menyebut kota Padang Panjang. Hujan yang tidak selalu menderu, anginnya yang lesap berebut ruang dengan kabut, hutannya yang berkelindan berpeluk-peluk dengan lembah yang basah menyesap suara binatang hutan dan bunyi kehidupan yang sedang merayakan kesyahduan dan kearifan yang dibangun melintasi abad demi abad. Dari Padang menuju Padang Panjang, jalan menukik berkelok-kelok membelah lembah dan dinding jurang bertanah liat dan karang berbatu. Air melimpah dari sulur akar-akar bergulung mengalir berkawan urat-urat tanah lalu terjun menjemput tanah, meruakkan pemandangan dan suasana, membekukan waktu dengan dingin yang nikmat. Lembah Anai yang ramainya luarbiasa. Orang-orang ramai datang dan pergi. Air Terjun tepian mandi. Tak lepas kunjungan wisatawan, kecil, muda, tua, dewasa lelaki dan perempuan. Mobil-mobil entah datang dari negeri mana berbaris terparkir melepas penat.